Bersama IPB dan BIDIKMISI, Wujudkan Mimpi Raih Prestasi

Oleh: Anggil Sendi Eriza

Aku bukan manusia langit, yang bercerita tentang awan dan hujan. Aku juga bukan terumbu karang yang pernah melihat birunya lautan. Aku bukan pula pohon yang yang bisa bermain dengan burung, menyampaikan kabar tentang alam. Namun, aku adalah potongan kehidupan.Aku memiliki rasa, bernafas dengan realita, dan menjadi detak syair nurani bumi. Ibuku adalah kehidupan, Ayahku kebijaksanaan. Aku terlahir dari proses antara keduanya, dan perwujudanku adalah kata. Ya,aku adalah sebuah kata.

“SELAMAT ANDA LULUS SELEKSI”, atas nama Anggil Sendi Eriza jurusan Proteksi Tanaman di Institut Pertanian Bogor. Itulah kalimat yang menjadi tonggak awal menuju impianku, tepatnya pada tanggal 18 Mei 2011 pukul 19.30 WIB, aku dinyatakan lulus seleksi SNMPTN Jalur Undangan. Bukan main senangnya hingga aku tidak bisa mengutarakan satu katapun, aku hanya terdiam dan menangis. Akupun bergegas pulang, dan segera mengabarkannya pada Orang tua, karena tidak memiliki komputer ataupun laptop jadi saat melihat pengumuman itu aku berada di warnet. Setibanya di rumah, dari pintu rumah yang agak lapuk,aku berteriak “Ibuk… anggil keterima di IPB” Ibukku pun memelukku dengan haru,adikku memberikan ucapan selamat dengan gayanya yang cuek namun penuh kasih sayang.

 Tiga tahun lalu, kuliah adalah sesuatu yang mustahil bagiku. Bagaimana tidak? SMA saja orang tuaku sudah kewalahan, apalagi dengan kedua adik-adikku yang masih SLTP dan TK. Lalu, sekuat itukah kemiskinan? dan selemah itukah diriku? menyandang status anak Indonesia adalah kebanggaan, tentu tidak ada ruginya jika aku bermimpi untuk meninjak dunia kampus. Kalaupun orangtua sudah angkat tangan, suburnya pertanian Indonesia pasti mau membiayai pendidikanku.

Berawal dari ketertarikan, saat beberapa kakak alumni datang ke sekolah dan ternyata mereka adalah mahasiswa IPB. Merekapun menerangkan dan mengenalkan IPB lebih jauh. Mendengar cerita dan informasi mengenai banyak Pengusaha Muda Mandiri yang dilahirkan oleh IPB,seperti : kak Gigin (penemu boneka horta), kak Ance (pemilik bumbu wangi resto), Elang Gumilang dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu per satu, serta beberapa tokoh pemerintahan dan direktur perusahaan pun adalah para alumni IPB. Aku makin tertarik dan tertantang untuk kuliah di IPB.Everything begin from dream, begitu pepatah mengatakan. Semua dimulai dari mimpi, semua yang diciptakan berasal dari sesuatu yang tidak ada sebelumnya.

Sejak saat itu,aku bertekad bulat untuk masuk IPB melalui jalur USMI/Undangan. Karena menurutku IPB adalah Intitut Paling Bermutu, dan bermutu dari segala aspek,selain bermutu IPB pun sangat perhatian dengan kondisi mahasiswa-mahasiswanya terutama dalam hal biaya kuliah, akademik, softskill,dan masih banyak lagi yang dapat aku banggakan dari IPB. Saat memasuki kelas 2 SMA aku sudah mempersiapkan untuk pendaftaran masuk IPB. Tapi ada satu hal yang membuatku down, yaitu saat memusyawarahkan dengan orangtua masalah biaya pendidikan di kuliah nanti, beliau tidak memberikan jawaban yang memuaskan. 

Beliau tidak mengijinkanku untuk melanjutkan pendidikan karena faktor ekonomi. Kata beliau, “Ngurusin kamu di SMA saja sudah kelabakan, apalagi nanti kalau kamu kuliah, adik-adikmu juga masih butuh sekolah, jangan terlalu banyak berharap bisa kuliah, lihat kondisi kita.”

Jawaban itu membuat sedikit putus asa. Berhari-hari aku pun tidak konsen dengan pelajaran di sekolah. Tapi semua itu tidak memadamkan semangatku untuk tetap bisa kuliah. Dengan kondisi keluarga yang seperti ini, siapa lagi orang yang bisa diandalkan untuk mengubah derajat keluargaku ini? Sudah cukup melihat keluargaku terus-terusan seperti ini. 

Aku tetap mencoba untuk meyakinkan orangtua agar diizinkan mendaftar di IPB. Meski orangtua belum yakin dan belum merestui, tapi aku akan tetap mencoba.Aku ingin sekali melanjutkan pendidikan. Selagi belum ada Undang-Undang yang menyatakan bahwa “ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH” maka aku akan tetap terus berusaha untuk itu.

Akhirnya aku pun tetap mendaftarkan diri tanpa sepengetahuan orangtua. Saat itu aku bingung harus pinjam uang siapa untuk biaya pendaftaran? Uang sebesar Rp.175.000 bisa aku dapatkan dengan apa? Aku terus berusaha…berusaha …dan berusaha, tadinya aku sempat ditawari guru untuk bekerja di rumahnya sebagai tukang setrika. Tapi ternyata Allah menjawabnya dengan menunjukkan kemurahan-Nya, karena Pelamar Beasiswa Bidikmisi jadi biaya pendaftaran di tiadakan. Alhamdulillah aku bisa mendaftar di IPB.

Waktu pun berlalu, dan jawaban orangtua masih menghantui fikiranku, aku akan terus dan tetap berusaha untuk tidak membebankan orangtua lagi, apapun yang terjadi. Sampai pada akhirnya, pengumuman pun tiba dan Subhanallah aku diterima menjadi mahasiswa IPB. Dan Allah telah telah menunjukkan jalan padaku, Dia memberi salah satu jalan agar aku bisa kuliah, selain diterima menjadi mahasiswa IPB, aku pun mendapat formulir beasiswa BIDIKMISI.Aku sangat senang karena ada satu peluang harapan agar aku dapat meringankan beban orangtua.

Setelah pengumuman, aku menanti jawaban dari beasiswa BIDIKMISIitu. Kalau saja tidak mendapat beasiswa itu, kecil harapan untuk bisa kuliah, bahkan tidak ada peluang untuk kuliah, tidak tau apa yang harus di lakukan agar bisa membayar biaya masuk yang lumayan cukup besar bagi keluargaku.Tapi Allah ternyata berkata lain, setelah aku tak banyak berharap lagi dengan beasiswa itu, Allah memberikan jawaban atas kekhawatiranku selama ini, “alhamdulillah, Aku mendapat beasiswa BIDIKMISIitu ” .

Ya, semua itu berawal dari mimpi, setelah mimpi kita miliki barulah kita merencanakannya dan bagaimana merealisasikan mimpi tersebut. Mahasiswa-Wirausahawati Sukses Tanpa Batas (MWSTP) adalah mimpiku dalam jangka dekat ini setelah memasuki dunia perkuliahan. Dari mimpi tersebut ,aku ingin menjadi seseorang yang Luar Biasa dari kehidupanku yang biasa.Ya,benar sekali kedengarannya berlebihan, imajiner,dan impossible. Namun aku akan tetap membawa dan mewujudkan mimpi-mimpiku bersama IPB, BIDIKMISI, untuk meraih prestasi. Semoga bersamamu, akan kulalui episode-episode hidupku dengan prestasi – prestasi yang ku raih di masa kini dan masa depan, amin.  Akhirnya dua coretan mimpi terbesar sudah dapat ku rengkuh, menuntut ilmu di IPB dan mendapatkan beasiswa BIDIKMISI.Terima kasih ya Allah, terima kasih IPB, dan terima kasih beasiswa BIDIKMISI.Aku harus bisa menjaga kepercayaan dan menjadi yang terbaik dari kumpulan yang terbaik. InsyaAllah IPB dan BIDIKMISItidak salah memberikan kepercayaannya kepadaku. Yang aku yakini adalah Allah sudah menciptakan kita kedunia dengan melalui sejumlah tahapan. Dia tidak mungkin akan meninggalkan kita dalam keadaan buruk dan tentunya Allah bertanggung jawab dengan memberikan kita hak menjadi sukses layaknya manusia “Sang Pemenang”. Episode ini akan saya tutup dengan meminjam kalimat Anton Iriant “ Kita tak mampu mengubah arah angin,tetapi yakinlah kita bisa mengubah bentangan layar supaya perahu tetap melaju ke arah pelabuhan Harapan”. Semangat berjuang, BERSAMA IPB DAN BIDIKMISI, WUJUDKAN MIMPI RAIH PRESTASI.

Bersama IPB dan BIDIKMISI, Wujudkan Mimpi Raih Prestasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top